Sejarah Kerajaan

Kemenangan terhadap I Gusti Agung Maruti telah membuat kharisma dan wibawa dinasti Kepakisan kembali pulih, maka untuk mengisi pemerintahan diangkatlah Sri Agung Jambe putra bungsu Dalem Di Made sebagai raja. Tetapi atas saran Ki Gusti Sidemen, pusat kerajaan tidak lagi di Gelgel, dan dipindahkan ke desa Klungkung dengan nama keraton smarajaya. Alasan perpindahan keraton ini diperkirakan karena keraton Sueca Pura Gelgel secara fisik sudah rusak akibat seringnya terjadi pemberontakan pada tahun 1651 Masehi, serta dianggap sudah tidak memiliki wibawa lagi sebagai pusat pemerintahan. Semua pusaka kebesaran dinasti Kepakisan yang dibawa dari Majapahit sudah dipegang oleh Sri Agung Jambe
  1. Dewa Agung Jambe (Sri Agung Jambe) raja Klungkung I
    Satu hal yang menarik setelah kerajaan Gelgel dipindahkan ke Klungkung yakni Sri Agung Jambe yang diangkat sebagai raja Klungkung I pada tahun 1686 M tidak lagi memakai gelar Dalem. Hal ini mengisyaratkan bahwa ada keinginan untuk melepaskan diri dari ikatan Majapahit, dan gelar yang dipakai adalah Dewa Agung. Dengan demikian Sri Agung Jambe adalah raja I di Bali yang memakai gelar Dewa Agung dengan gelar Dewa Agung Jambe, yang berlaku terus untuk raja pengganti beliau. Meskipun akhirnya setelah penghapusan gelar Jawa peninggalan Gajah Mada ini telah berhasil,  ada penurunan akan jumlah wilayah yang pernah dikuasai oleh leluhurnya pada jaman Gelgel,   setidaknya usaha untuk membuktikan diri sebagai raja yang otonom benar-benar sangat berhasil. Selanjutnya  Dewa Agung Jambe sebagai raja Klungkung I digantikan oleh putra Beliau bernama Dewa Agung Made.
     
  2. Dewa Agung Made Raja Klungkung II
    Dewa  Agung Made adalah putra dari Dewa Agung Jambe yang dinobatkan sebagai raja II di Keraton Smarajaya Klungkung, tetapi informasi mengenai pemerintahan Dewa Agung Made ini hampir tidak pernah ditulis. Yang jelas berdasarkan bukti-bukti adanya penerus kepenguasaan, mencerminkan bahwa raja ini dapat memegang tampuk pemerintahan dengan baik.
     
  3. Dewa Agung Dimadya Raja Klungkung III
    Setelah berakhirnya pemerintahan Dewa Agung Made, Beliau digantikan oleh putranya bernama Dewa Agung Dimadya sebagai raja III kerajaan Klungkung. Sama seperti ayahnya, informasi menganai pemerintahan ini juga sedikit sekali informasinya.
     
  4. Dewa Agung Sakti Raja Klungkung IV
    Sumber-sumber sejarah yang menyebutkan tentang pemerintahan Dewa Agung Sakti sebagai Raja Klungkung IV juga sulit ditemukan. Yang jelas beliau adalah putra dari Dewa Agung Dimadya. Mungkin pada masa pemerintahan raja-raja Klungkung yang sedikit informasinya ini, menandakan bahwa peranan Beliau tidak terlalu menonjol. Dan mungkin juga disebabkan karena pada masa ini keadaan sangat stabil.
     
  5. Dewa Agung Putra I ( Dewa Agung Putra Kusamba) Raja Klungkung V
    Dewa Agung Sakti sebagai raja Klungkung ke -4,  digantikan oleh putranya yaitu Dewa Agung Putra I ( Dewa Agung Putra Kusamba )
     
  6. Dewa Agung Putra II
    Dewa Agung Putra Balemas sebagai raja Klungkung ke-6 adalah putra dari Dewa Agung Putra Kusamba. Raja inilah yang mengawali benih konflik dengan pemerintah Belanda, dengan penandatanganan surat kontrak tahun 1841 Masehi
     
  7. Dewa Agung Istri Kanya Raja Klungkung VII
    Dewa Agung istri Kanya adalah adik dari Dewa Agung Putra Balemas, yang akhirnya mengobarkan peristiwa perang Kusamba menentang intervensi Belanda (Mei sampai Juli 1849). Yang menonjol dari peristiwa ini adalah keberanian Dewa Agung Istri Kanya sebagai seorang raja perempuan yang disegani, dan yang menyebabkan gugurnya Jendral Michiels sebagai salah satu petinggi Kompeni Belanda
     
  8. Dewa Agung Ktut Agung Raja Klungkung VIII
    Raja Klungkung ke-8 ini merupakan putra bungsu Dewa Agung Sakti. Sebelum menjadi raja, beliau sangat berperan membantu Dewa Agung Istri Kanya saat perang Kusamba sebagai Mangkubumi. Dengan keberaniannya pernah memimpin laskar Klungkung membantu Buleleng dalam perang Jagaraga di Den Bukit.
    9. Dewa Agung Putra III (Betara Dalem Ring Rum ) Raja Klungkung IX
  9.  
  10. Riwayat Raja Klungkung ke -9 ini tidak banyak ditulis dalam berbagai sumber sejarah. Tetapi yang jelas beliau adalah satu-satunya raja Klungkung yang kembali memakai gelar Dalem.

10Dewa Agung Jambe raja Klungkung X

Dewa Agung Jambe adalah raja Klungkung terakhir (putra dari betara Dalem Ring (Rum) yang gugur beserta seluruh keluarga puri, para bangsawan, dan laskar Klungkung saat terjadi perang Puputan melawan Kolonialisme Belanda pada tanggal 28 April 1908